Alasan Produsen Jas Hujan Was-Was Soal Dolar

Ilustrasi jas hujan Foto: ist

Produsen jas hujan di Indonesia dikala ini masih memakai materi baku impor. Pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar turut berimbas pada bisnis produsen hujan.

Seperti yang disampaikan Mohamad Said, produsen jas hujan brand Ascold asal Depok, Jawa Barat, yang kerap was-was dikala dolar melambung tinggi.


"Yang penting kita dapat survive, kini juga bahan-bahan meningkat, apalagi dolar sempat naik waktu itu, tidak hanya kain, barang yang kita beli di toko menyerupai resleting, kancing dan segalam macam itu juga dari impor, jadi kuat juga," ungkap Said.

Said menyampaikan untuk bertahan di tengah naik turunnya dolar dengan tidak melulu menaikan harga kepada konsumen.


"Antisipasinya tidak selalu menaikan harga, kalaupun naik tidak signifikan, alasannya ialah kita juga mengurangi margin keuntungan," kata Said.

"Tapi jikalau kita perhatikan dolar itu naiknya tidak terus menerus, kadang naik dan turun, jadi kita nggak paksakan untuk naikan harga, jadi kita tetap menyesuaikan dan bertahan dengan harga, kecuali produksi tidak mencukupi gres benar harga jual kita naikan," ujarnya.

Selain itu, Said juga melaksanakan penemuan terhadap jenis desain jas hujannya. Hal ini dilakukan untuk menjaring konsumen baru, tanpa perlu menaikan harga jual dan menurunkan kualitas.

"Kita punya desain khusus wanita, mereka kan senangnya praktis, ada setel gamis, bawahan rok, dan juga baru-baru ini Ascold Gunung khusus untuk para pendaki," kata Said.
Harga jas hujan yang dijual produk Ascold mulai dari Rp 195.000 untuk materi rubber (PVC), dan Rp 250.000 untuk berbahan taslan balon atau polyster coating PU.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel